Ilustrasi Rumput Laut. (Ist)

Kabar Petani Rumput Laut di Nunukan, Harga Jual Kurang Membaik dan Kekurangan Bibit

NUNUKAN, DETAK KALIMANTAN – Sejumlah petani rumput laut di Nunukan, terutama di Mamolo, Nunukan Selatan, kini menghadapi masa sulit.

Selain harga jual yang tak kunjung membaik, para petani di pesisir wilayah Mamolo hingga Sei Jepun mengeluhkan produksi rumput laut yang terus menurun.

Bahkan, bibit unggul semakin pun sulit diperoleh. Sehingga, dengan kondisi ini membuat sebagian besar petani terpaksa menghentikan aktivitasnya dan menggantung tali budidaya.

Kamaruddin, salah satu petani rumput laut di wilayah Mamolo, menceritakan bahwa sejak beberapa bulan terakhir pertumbuhan rumput laut di arealnya tidak lagi normal. Rumput yang biasa tumbuh subur dalam waktu tiga minggu kini memerlukan waktu dua kali lebih lama. Sebagian bahkan tidak tumbuh sama sekali dan rusak sebelum panen.

“Masalah kita sekarang ini, rumput laut tidak subur. Ini sudah terjadi beberapa bulan terakhir ini,” ungkap Kamaruddin, Jumat (31/10) dilansir dari Koran Kaltara.

Ia menuturkan, keluhan serupa datang dari hampir semua petani di Mamolo dan sekitarnya. Mereka menduga penurunan produksi ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari perubahan kualitas air laut, pengaruh cuaca ekstrem, hingga kualitas bibit yang sudah menurun.

“Kalau dilihat dari warnanya, rumput laut sekarang cepat cokelat dan mudah hancur. Ini tanda tidak sehat. Tapi untuk pastinya, harus diuji di laboratorium. Kami harapkan pemerintah daerah bisa turun tangan, karena ini sudah mengancam penghidupan petani,” ujar Kamaruddin.

Ia mengatakan, para petani sebenarnya sudah menyampaikan masalah ini kepada pemerintah daerah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Nunukan. Namun hingga kini belum ada langkah nyata untuk mengidentifikasi penyebab dan mencari solusi jangka panjang.

“Kami sudah sampaikan melalui kelompok tani, tapi belum ada tindak lanjut. Padahal untuk tahu penyebab pastinya, harus ada uji sampel air laut dan bibit rumput laut oleh tenaga ahli. Jangan sampai kondisi ini dibiarkan, karena kami bisa benar-benar berhenti produksi,” tambahnya.

Sementara itu, kondisi lebih berat dialami oleh petani lantaran yang sudah kehabisan bibit, khususnya di Mamolo. Banyak di antara mereka memilih berhenti menanam dan menggantung tali budidaya. Padahal, kawasan tersebut merupakan salah satu sentra penghasil rumput laut potensial di Kabupaten Nunukan.

“Di Mamolo sekarang banyak yang sudah menggantung tali karena tidak ada bibit. Kalau pun mau beli bibit dari luar, harganya mahal dan belum tentu cocok dengan kondisi air di sini,” jelasnya.

Selain minim bibit, para petani juga masih dihadapkan dengan harga jual yang belum stabil. Saat ini, harga rumput laut kering di tingkat petani hanya berkisar antara Rp14.000 hingga Rp16.000 per kilogram, tergantung kualitas.

“Untuk harga sekarang memang lumayan dibanding sebelumnya, tapi kalau hasil panen sedikit, tetap saja kami merugi. Rumput tidak tumbuh, harga pas-pasan, sementara biaya tetap jalan,” keluhnya.

Kamaruddin menegaskan, pemerintah daerah perlu memberi perhatian serius terhadap kondisi ini. Selain dukungan teknis seperti penelitian kualitas air dan bibit, para petani juga sangat membutuhkan bantuan bibit baru agar bisa kembali berproduksi.

“Kami butuh bibit unggul yang bisa tumbuh baik di perairan Mamolo. Kalau tidak, petani akan terus berhenti satu per satu. Pemerintah harus bantu kami supaya bisa kembali menanam,” ujarnya.

Menurutnya, budidaya rumput laut selama ini menjadi tumpuan ekonomi masyarakat pesisir Nunukan. Banyak keluarga yang menggantungkan penghasilan harian dari hasil panen rumput laut, sehingga penurunan produksi saat ini berpotensi menimbulkan dampak sosial ekonomi yang cukup besar.

“Kalau kondisi ini dibiarkan, bisa banyak keluarga kehilangan mata pencaharian. Kami tidak minta bantuan uang, cukup bantu cari solusi dan bantu bibit supaya bisa menanam lagi,” pungkasnya. (Awe/Koran Kaltara)

Bagikan Berita:

Check Also

Purbaya Dikabarkan Ambruk dan Masuk Rumah Sakit

JAKARTA, DETAK KALIMANTAN – Kementerian Keuangan buka suara terkait perbincangan di media sosial yang menyatakan …