KOTABARU, DETAK KALIMANTAN – Dalam membantu Pemerintah Daerah terkait dengan masalah stunting PT.Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Plant Tarjun membantu Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita stunting dan Ibu hamil berisiko stunting.
Kegiatan tersebut bertempat di Desa Mitra Club House Indocement Tarjun, Kecamatan Kelumpang Hilir, Rabu (28/7/2023) yang dihadiri Ketua TP-PKK Kotabaru, Camat setempat, Ketua TP-PKK Kecamatan, Puskesmas Kelumpang Hilir dan Hulu, Management ITP tarjun, Kader Posyandu dan seluruh tamu undangan lainnya.
Bantuan PMT yang di berikan sebanyak 38 orang penerima manfaat terdiri dari 19 orang balita stunting dan 19 orang ibu hamil resiko stunting di 9 Desa Mitra ITP.
Dalam kesempatan itu Ketua TP-PKK Kabupaten Kotabaru Hj.Fatma Idiana Sayed Jafar menyampaikan, kegiatan yang dilaksanakan ini merupakan upaya percepatan dan pencegahan stunting. Pemerintah terus berupaya untuk mencapai target penurunan prevalensi stunting maksimal sebesar 14% pada tahun 2024 mendatang.
“Kita harus tahu penurunan stunting memerlukan intervensi yang terpadu yang mencakup intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Salah satunya intervensi gizi spesifik menyediakan PMT berbahan dasar lokal,” ujar Fatma Ketua TP-PKK.
Pelatihan yang dilaksanakan ini adalah salah satu rangkaian kegiatan HUT PT.Indocement Tunggal Prakarsa ke-48, yang merupakan salah satu cara untuk membantu kader dalam mendapatkan pengetahuan tentang cara pembuatan kreasi makanan tambahan serta memberikan motivasi inisiatif bagi ibu untuk membuat dan mengkreasikan makanan untuk anak sehingga kemauan anak untuk makan jadi meningkat, disamping itu kebutuhan gizi seimbang anak dapat terpenuhi.
“Pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan pangan lokal merupakan salah satu strategi penanganan masalah gizi pada balita gizi kurang dan ibu hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK). PMT tersebut perlu disertai dengan edukasi gizi dan kesehatan untuk perubahan perilaku misalnya dengan dukunan pemberian ASI, edukasi dan konseling pemberian makan, hygiene sanitasi untuk ibu, pengasu dan keluarga,” terangnya.
“Melalui program CSR Indocement gelar pelatihan PMT berbahan pangan lokal diikuti sebanyak 30 peserta Kader Posyandu di Desa Mitra yang langsung di berikan oleh instruktur dari tim gizi dari Puskesmas Kelumpang Hilir serta chef dari Indocement,” tutupnya mengakhiri pembicaraan.
Hal senada juga dikatakan oleh Plt.Camat Kelumpang Hilir dan Hulu Saiful Rakhman, program yang dilaksanakan oleh PT. ITP ini diharapkan dapat berkelanjutan kedepannya sehingga akan bisa menekan angka stunting khususnya di wilayah Kabupaten Kotabaru sesuai pesan Bupati.
Dikesempatan yang sama General Manager Plant 12 Tarjun Agus Fahri Rasad melalui SHCSR Department Head Indocement Plant Tarjun, M. Syaifuddin menyampaikan, kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan HUT ITP ke 48.
“Melalui program “INDOCEMENT BAIK” ini adalah wujud bentuk kepedulian perusahaan dalam upaya mendukung pemerintah dalam percepatan penurunan angka stunting khususnya di wilayah Kotabaru,” ucapnya.
“Bantuan ini merupakan hasil donasi dari karyawan Indocement Tarjun yang di berikan dalam bentuk paket gizi untuk balita stunting dan ibu hamil resiko stunting. Kegiatan ini juga sejalan dengan Program SDG’s No.3, Pilar Kesehatan yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia,” ungkapnya.
Indonesia mempunyai masalah gizi yang cukup berat yang ditandai dengan banyaknya kasus gizi kurang pada anak balita, usia masuk sekolah baik pada laki- laki dan perempuan. Masalah gizi pada usia sekolah dapat menyebabkan rendahnya kualitas tingkat pendidikan, tingginya angka absensi dan tingginya angka putus sekolah.Malnutrisi merupakan suatu dampak keadaan status gizi baik dalam jangka waktu pendek maupun jangka waktu lama.
Stunting adalah salah satu keadaan malnutrisi yang berhubungan dengan ketidakcukupan zat gizi masa lalu sehingga termasuk dalam masalah gizi yang bersifat kronis. Stunting diukur sebagai status gizi dengan memperhatikan tinggi atau panjang badan, umur, dan jenis kelamin balita. Kebiasaan tidak mengukur tinggi atau panjang badan balita di masyarakat menyebabkan kejadian stunting sulit disadari ,Hal tersebut membuat stunting menjadi salah satu fokus pada target perbaikan gizi di dunia sampai tahun 2025.(NN)
Detak Kalimantan Portal Berita Akurat dan Terpercaya