Oleh: Anas
Suara renyah Isnawati yang bergema melalui media Toa yang terpasang di menara Masjid Darul Istiqomah itu teramat akrab di telinga warga Desa Walatung, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).
Saban awal bulan, wanita beranak dua itu tak pernah bosan mengajak warga desa di wilayah paling uncit Kabupaten berjuluk ‘Bumi Murakata’ itu untuk membawa anak balitanya ke Posyandu untuk diberikan layanan kesehatan oleh petugas Puskesmas Kecamatan.
Isna, demikian perempuan bergigi gingsul itu dipanggil, adalah ketua Posyandu “Melati” Desa Walatung. Dia tak sendiri, ada enam ibu – ibu sebayanya yang menjadi garda terdepan dalam memberikan pelayanan dan pemahaman tentang seluk – beluk pentingnya menjaga kesehatan bagi warga.
“Setiap awal bulan, saya umumkan kepada warga melalui mic masjid agar membawa anak balita ke Posyandu untuk diperiksa kesehatannya. Termasuk juga ibu hamil dan menyusui,” ujarnya.
Isna bercerita, rata – rata tingkat pendidikan warga desa masih rendah, sehingga diperlukan ketekunan dan kesabaran dalam mengindukasi. Kesabaran dan tak kenal lelah adalah kuncinya. Awalnya, tak sedikit warga yang menolak membawa anaknya ke Posyandu untuk di imunisasi. “Saya tak pernah menyerah, berkat ketekunan, hampir 100 persen anak balita desa Walatung sudah diberikan imunisasi lengkap, yakni Hepatitis B, BCG, Polio, DPT, Hib, Rotavirus, Campak atau MR,” jelas Isnawati yang pernah mengenyam pendidikan empat semester di perguruan tinggi di Kota Barabai. “Saya berhenti kuliah karena waktu itu orang tua meminta saya untuk menikah,” ucapnya sambil tersenyum sembari membangun alasan.
Tutur renyah Isna berlanjut, sampai akhir bulan Desamber 2022, dari 40 anak yang masuk sasaran imunisasi, sudah 31 anak yang telah menerima imunisa lengkap. Bersama kader posyandu lainnya, Isna optimis sasaran imunisasi akan berhasil 100 persen di awal Mei 2023 ini.
Isna yang secara rutin selalu mengikuti pelatihan kader Posyandu itu melanjutkan ceritanya sambil menarik tarikh ke beberapa tahun silam, ternyata bukan perkara mudah mengajak orangtua untuk mengimunisasi anaknya. “Mereka menolak mentah – mentah. Saya sering menerima sumpah serapah. Inilah tantangannya dan saya tak putus asa, semangat saya malah lebih kencang,” ujarnya.
Kenapa Isnawati begitu gencar meminta orangtua agar memberikan imunisasi kepada buah hatinya. “Karena anak yang tidak diimunisasi memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena komplikasi yang dapat menyebabkan kecacatan atau bahkan kematian. Ini karena tubuh tidak memiliki sistem pertahanan khusus yang dapat melindungi tubuh dari penyakit-penyakit berbahaya tertentu, sehingga kuman akan semakin mudah berkembang biak dan menginfeksi tubuh anak,” urainya lancar.
Mendobrak tembok kendala, berbagai cara pun dilakukan Isna dan temannya untuk menarik minat orangtua membawa anak ke Posyandu. Selain suasana Posyandu dibikin senyaman mungkin, Isna dan koleganya juga menyiapkan tempat bermain anak-anak meski sangat sederhana. “Kami juga siapakan makanan gratis. Ada kue untuk, gambung, apam, jalabia dan lainnya lengkap dengan minuman satrup, teh dan kopi. Jadi tak cuma bubur kacang,” ucapnya.
Wal hasil, berkat “jamuan” yang disediakan secara urunan para kader Posyandu itulah, perlahan namun pasti, minat orangtua membawa anak untuk imunisasi makin meningkat. “Lucunya, tak cuma ibu – ibunya yang datang, ada beberapa bapaknya juga ikut ke Posyandu dengan alasan menemani, padahal mau minum gratis,” tutur Isna sambil tersungging.
Salahsatu warga yang mempunyai anak balita Marhamah mengaku senang datang ke Posyandu karena mendapatkan layanan yang sangat baik. Isnawati dan enam kader Posyandu disebutnya sangat ramah dan bekerja dengan hati.
“Kami sangat senang dengan layanan yang diberikan. Informasi dan anggapan yang kami terima dari medsos selama ini ternyata salah. Imunisasi lengkap untuk anak itu sangat penting dan tak bisa ditawar – tawar,” ujarnya penuh semangat.
Mewakili warga, Marhamah mengaku rindu suara renyah merdu Isnawati yang selalu menyeruak tiap awal bulan menembus hutan dan persawahan desa dibawa angin semilir membawa ajakan akan pentingnya imunisasi dan merawat kesehatan.
Kepala Desa Walatung Murhani mengaku kagum dan takjub dengan kegigihan kader Posyandu di desa yang dia pimpin. “Tak sekedar apresiasi ucapan yang kami berikan, honor kader Posyandu mulai tahun ini kami naikan. Semoga ini menjadikan mereka tambah semangat dalam mengindukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan,” harapnya.
Pambakal Amur, demikian dia akrab disapa bertutur, meskipun Desa Walatung letaknya agak terpencil karena berbatasan langsung dengan Kabupaten Hulu Sungai Utara, namun aparat desa telah bertekad bulat menempatkan di posisi nomor satu untuk kesehatan warga desa yang terkenal sebagai penghasil Bakul Purun, Gula Aren dan Kolang-kaling itu. “Alhamdulillah warga kami jarang sakit, rata – rata sehat karena mereka telah memahami pentingnya arti kesehatan. Bayi, balita dan anak – anak juga sehat karena telah diberikan imunisasi lengkap,” ujar jebolan sarjana pendidikan dari PTS ternama di Kota Banjarmasin itu.
Secara terpisah, Wakil Bupati Hulu Sungai Tengah, Mansyah Sabri mengakui, tingkat pendidikan dan budaya masih mempengaruhi perilaku orang tua terhadap pentingnya imunisasi untuk bayi, balita dan anak – anak.
“Banyak orangtua yang masih enggan anaknya diimunisasi karena termakan kabar bohong atau hoax. Inilah tantangan kader Posyandu dan tenaga kesehatan untuk memberikan informasi yang benar tentang pentingnya imunisasi,” ujarnya.
Mansyah meyakini, dengan informasi yang diberikan secara detail dan lengkap oleh kader Posyandu dan tenaga kesehatan, ketidaktahuan masyarakat tentang pentingnya imunisasi bisa diminimalisir. “Kita akan tularkan semangat Isnawati dari Desa Walatung ini ke seluruh desa di HST,” tukasnya.
Detak Kalimantan Portal Berita Akurat dan Terpercaya