BANJARBARU, detakkalimantan.com- Minat masyarakat Kalimantan Selatan mengonsumsi ikan Gabus atau yang akrab disebut Haruan sangat tinggi. Maka ikan predator itu acap menjadi penyumbang inflasi akibat permintaan yang sangat tinggi ditengah ketersediaan ikan masih sangat kurang.
Kenapa ikan Haruan masih susah “surplus” ?. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalsel Rusdi Hartono mengatakan ada beberapa penyebabnya. Pertama budidaya Haruan belum terlalu familiar di masyarakat Kalsel. “Saat ini sedang di galakkan kampung Haruan di dua kabupaten yakni Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah. Kami dari dinas terus mendorong budidaya ikan lokal ini,” ujarnya kepada detakkalimantan.com, Jumat (28/4).
Faktor kedua, beber Rusdi, alih fungsi lahan rawa tempat berkembang biak haruan yang terus terjadi. Ketiga, prilaku masyarakat yang masih ada menggunakan setrum dan racun kala menangkap ikan.
“Tiga faktor inilah yang mengakibatkan ikan Haruan masih kurang dalam memenuhi kebutuhan pasar,” cetusnya.
Rusdi menyebut, Dinas Kelautan dan Perikanan Kalsel sejak tahun 2021 terus melakukan persemaian ikan di alam bebas seperti danau dan sungai. Tujuannya tidak lain agar benih ikan Haruan bisa berkembang dengan baik secara alami.
“Sudah ratusan ribu bibit ikan Haruan kita sebar. Harapan kita masyarakat bisa ikut menjaga kelestariannya dengan tidak melakukan penyetruman dan meracun dalam menangkap ikan,” harapnya.
Rusdi berujar, lidah masyarakat Kalsel memang sangat akrab dengan lauk ikan Haruan kalau makan pagi seperti ketupat, nasi kuning dan lontong.
“Konsumsi ikan Haruan kita sangat tinggi, memang susah merubah pola makan ikan ini ke ikan laut misalnya. Karena itu kita terus berupaya agar ikan Haruan selalu tersedia di masyarakat,” tutupnya.(Ltf)
Detak Kalimantan Portal Berita Akurat dan Terpercaya