BANJARBARU, DETAK KALIMANTAN – Ketua Jurnalis Online Indonesia (JOIN) Kalsel, Anas Aliando mengatakan, selama ini jurnalis seakan jadi tong sampah informasi. Cuma dikirimi rilis kegiatan pejabat, lalu diminta di tulis untuk medianya, tanpa diberi ruang untuk bertanya.
Wartawan senior Harian Kalsel Pos itu menilai, hubungan antara insan pers dan pemerintah daerah, semakin kesini tampaknya semakin timpang. “Jurnalis kerap diposisikan sekadar pelengkap seremonial, bukan mitra kritis yang membantu publik memahami kebijakan,” kata mantan wartawan Majalah Nasional Gatra itu dalam perbincangan santai dengan Detak Kalimantan, Sabtu (1/11/2025).
Anas menyebut, perubahan struktur birokrasi turut memperlebar jarak itu. “Dulu masalah pemberitaan ditangani humas dan masih lumayan terbuka, jurnalis bisa berdiskusi langsung. Sekarang, setelah dipindahkan ke Dinas Kominfo, semuanya terasa kaku dan birokratis,” cetusnya.
Wartawan yang beberapa kali mendapatkan penghargaan dalam lomba penulisan berita dan lomba foto ini menyebut, perubahan bukan sekadar soal tempat atau jabatan, melainkan soal ruang komunikasi. Ketika pemerintah mulai menutup diri, media kehilangan akses untuk memeriksa dan menyampaikan kebenaran. Dan ketika media hanya menjadi penyalur rilis, publik pun kehilangan kesempatan untuk tahu lebih banyak, lebih dalam.
Anas sambil tersenyum tanpa membawa amarah berkata, “Solusinya bukan saling menyalahkan. Kita harus membangun kembali komunikasi dua arah. Pemerintah perlu melihat jurnalis sebagai mitra, bukan lawan.” tegas lelaki berdarah Barabai itu.
Ia pun mendorong setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) membuka diri menggelar konferensi pers, jumpa jurnalis, atau sekedar wawancara terbuka.
“Dengan membuka ruang dialog yang sehat, pemerintah bisa mencegah kesalahpahaman dan memastikan masyarakat mendapat informasi yang benar,” tegasnya.
Anas berujar, pengendalian informasi bukan berarti membatasi, tetapi memastikan setiap berita bisa dipertanggungjawabkan. “Pemerintah menyampaikan, pers menelusuri, masyarakat menilai. Itu mekanisme sehat demokrasi,” kata pengagum Khalil Gibran itu.
Sambil menyeruput kopi hitam tanpa gula di atas gedung berlantai 25 di kawasan Ahmad Yani, Anas menatap jalan yang ramai. Ia tersenyum kecil, seolah masih menyimpan harapan.
“Kalau pemerintah terus menutup diri, jangan salahkan kalau publik kehilangan kepercayaan. Tapi kalau terbuka dan bersahabat, media akan jadi mitra paling kuat dalam membangun kepercayaan itu,” tutupnya. (Awe)
Detak Kalimantan Portal Berita Akurat dan Terpercaya