TARAKAN, DETAK KALIMANTAN – Jumlah peserta didik di Sekolah Rakyat (SR) Tarakan mengalami penurunan. Kondisi ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Tarakan. Wakil Wali Kota Tarakan, Ibnu Saud Is, menilai perlunya langkah strategis agar program pendidikan yang diperuntukkan bagi keluarga miskin ekstrem itu tetap berjalan optimal.
Menurut Ibnu, penyebab utama berkurangnya siswa bukan hanya soal fasilitas fisik sekolah, tetapi juga faktor sosial dan budaya masyarakat. Banyak calon orang tua murid yang belum memahami konsep Sekolah Rakyat secara menyeluruh, termasuk sistem pendidikan berasrama yang menjadi ciri khasnya.
“Ada orang tua yang tergolong miskin, tapi tidak ingin anaknya tinggal di asrama. Mereka lebih memilih anaknya pulang ke rumah setiap hari. Bahkan ada yang bilang, kalau bisa bantuannya diuangkan saja biar anaknya makan di rumah. Padahal itu bukan konsep Sekolah Rakyat,” jelas Ibnu, Selasa (21/10/2025) dilansir dari Super Kaltara.
Ia menambahkan, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga membentuk kedisiplinan dan karakter siswa. Karena itu, pendekatan kepada masyarakat harus dilakukan dengan lebih persuasif dan berkelanjutan.
“Kadang saat kita melakukan pendekatan, ada yang menganggapnya seperti intimidasi. Pernah juga ada kasus anak sudah masuk asrama, lalu dibawa pulang lagi oleh orang tuanya karena tidak terbiasa. Ini jadi tantangan dalam sosialisasi,” ujarnya.
Meski demikian, Pemkot Tarakan berkomitmen untuk terus mendukung keberlangsungan Sekolah Rakyat. Program ini dianggap sejalan dengan visi pemerintah pusat dalam mempercepat pengentasan kemiskinan melalui pendidikan.
“Program ini sangat baik. Presiden menilai Sekolah Rakyat sebagai cara cepat mengangkat derajat masyarakat miskin. Tapi tentu tidak bisa instan, semua butuh proses dan kesungguhan,” terang Ibnu.
Ia berharap para siswa yang lulus dari Sekolah Rakyat nantinya tidak hanya mampu bekerja, tetapi juga bisa menjadi pencipta lapangan kerja.
“Harapan kita, lulusan Sekolah Rakyat bisa mandiri dan membuka peluang kerja bagi orang lain. Kalau ditekuni dengan sungguh-sungguh, ini bisa menjadi jalan keluar dari lingkaran kemiskinan,” tutupnya. (Awe/Super Kaltara)
Detak Kalimantan Portal Berita Akurat dan Terpercaya