BANJARMASIN, DETAK KALIMANTAN – Musim kemarau telah tiba. Permintaan buah kelapa meningkat tajam. Namun pasokan makin seret. Kelapa banyak mati akibat terendam banjir besar awal tahun 2021 dan tergerus perkebunan sawit yang makin masif.
Amang Arpan, penjual kelapa muda di dekat Pasar Kalindo, Kuin Cerucuk Banjarmasin berkeluh, kelapa makin susah didapat karena banyak mati akibat banjir terutama yang tumbuh di wilayah Kabupaten Barito Kuala. “Untuk di daerah Pangkoh, Catur dan Tamban banyak ditebang diganti dengan sawit,” ujar Arpan kepada Detak Kalimantan, Rabu (19/7).
Karena kelapa makin susah didapatkan, akibatnya harga melonjak naik sejak 3 tahun terakhir. Kelapa ukuran besar biasanya dibeli dari pengepul Rp3.500/biji, kini naik menjadi Rp5000/biji. “Akibatnya modal meningkat, labanya tetap saja, bahkan menurun,” ucapnya lirih.
Untuk memenuhi permintaan pelanggan, Arpan mau tidak mau terpaksa berburu kelapa muda hingga ke Kalimantan Tengah dan hulu sungai. “Saya beli sampai Kapuas, Pulang Pisau hingga hulu sungai seperti Kandangan dan Barabai,” ungkapnya.
Setiap hari, Arpan harus menyediakan minimal 300 biji kelapa muda untuk pelanggan setianya. “Pelanggan ada di Banjarmasin, Gambut, Banjarbaru dan Handil Bakti. Es Niur Mama Icha dan Rumah Makan Fauzan juga berlangganan kelapa muda dengan saya,” sebutnya.
Arpan berujar, susahnya mendapatkan kelapa muda, tidak jarang jualannya kosong dan permintaan pelanggan pun tak bisa dipenuhi.
“Saya terpaksa beli kelapa dengan teman yang punya stok meskipun dengan harga yang mahal. Ini terpaksa dilakukan agar pelanggan tidak kecewa,” ujar pria paruh baya yang berjualan lebih dari 20 tahun ini.
Arpan memperkirakan, kelapa muda akan makin susah didapatkan apabila alihfungsi lahan makin masif. “Kalau tidak diatur dan dicarikan solusi, maka buah kelapa akan langka. Karena menurut cerita kawan, menanam sawit jauh lebih menguntungkan,” ujarnya. (Ltf)
Detak Kalimantan Portal Berita Akurat dan Terpercaya