Kenalkan Generic Model Ekosistem Keungan Inklusif, OJK Turun ke Desa

SURABAYA, DETAK KALIMANTAN –  Terbatasnya akses keuangan dan rendahnya literasi membuat banyak warga perdesaan terjerat rentenir. Meski tahu bakal dikenakan bunga besar dan berlipat-lipat, warga desa tetap meminjam modal ke rentenir karena alasan kemudahan.

Untuk memperluas akses keuangan dan membantu warga di perdesaan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) yang diluncurkan pada 22 Juni 2023 lalu di Desa Kampuang Nagari Sumpur, Tanah Datar, Sumatra Barat.

Deputi Direktur Perencanaan Pengembangan Evaluasi Literasi dan Edukasi Keungan OJK Pusat, Yulianta menjelaskan, program EKI juga mencakup penyediaan edukasi keuangan yang komprehensif di masyarakat desa. “Hal itu juga disebut dengan program Desaku Cakap Keuangan,” ujarnya saat memberikan materi pada kegiatan Media Gathering OJK se Kalimantan di Kota Surabaya, Kamis (6/7).

Yulianta menuturkan, program tersebut merupakan upaya peningkatan pemahaman masyarakat desa terhadap lembaga, produk, maupun layanan jasa keuangan konvensional dan syariah. Hal tersebut dilakukan melalui pembekalan terhadap perangkat desa dan edukasi oleh perangkat desa kepada masyarakat.

Program Desaku Cakap Keuangan dilakukan oleh OJK bekerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait. Kerja sama juga dilakukan dengan pemerintah daerah melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD).

“Ada tiga tahapan dalam program. Tahap pertama adalah optimalisasi potensi desa. Dalam tahapan tersebut akan dilakukan proses identifikasi dan pemetaan potensi desa berupa potensi fisik, alam, manusia, sosial, dan finansial yang dilakukan pada Juni 2023.

Selanjutnya, tahapan inkubasi berupa pemberian pendampingan dan edukasi keuangan, serta pemberdayaan masyarakat. Tahap tersebut akan dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dan pendampingan secara berkelanjutan oleh stakeholder terkait.

Kemudian, lanjut Yulianta, tahap ketiga yaitu pasca-inkubasi. Dalam tahap ini, masyarakat desa diharapkan sudah dapat menggunakan berbagai produk keuangan secara optimal. Selanjutnya akan dilaksanakan identifikasi hasil pelatihan dan pendampingan yang telah dilakukan untuk mengukur capaian peningkatan inklusi keuangan pada masyarakat desa pada November 2023.

“Melalui tiga tahapan tersebut, upaya peningkatan inklusi keuangan akan terbangun secara optimal dan terukur, sehingga mendapatkan hasil sesuai tujuan dalam mengembangkan desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Yulianta.

Dia menekankan, program EKI di perdesaan mengoptimalkan potensi yang ada. “Potensi di perdesaan ini ada potensi alam, budaya, sosial, dan finansial dengan ketersediaan akses keuangan dari berbagai sektor jasa keuangan, seperti perbankan, asuransi, dan pasar modal,” katanya.

Dia memastikan, OJK terus melakukan berbagai upaya langkah progresif untuk meningkatkan akses keuangan masyarakat. Program tersebut diharapkan dapat mempercepat pengembangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Menurut dia, program EKI tersebut berbeda dengan yang disiapkan sebelumnya. “Karena di sini OJK tidak hanya melakukan event yang sekali selesai, tapi juga melakukan pendampingan, mulai dari pra-inkubasi, inkubasi, dan pasca-inkubasi,” ujarnya.

Program EKI menyinergikan peran para pemangku kepentingan di daerah dan melibatkan berbagai layanan dan produk lembaga jasa keuangan, seperti program Rekening Pelajar (Kejar), program Laku Pandai, KUR, UMMI, security crowd funding (SCF), dana pensiun, teknologi finansial (tekfin), dan QRIS. (Ltf)

Bagikan Berita:

Check Also

Purbaya Dikabarkan Ambruk dan Masuk Rumah Sakit

JAKARTA, DETAK KALIMANTAN – Kementerian Keuangan buka suara terkait perbincangan di media sosial yang menyatakan …