Melihat Proses Pembuatan Uang di Peruri, Jurnalis Kalsel Berdecak Kagum

KARAWANG, detakkalimantan.com – Mandat khusus diberikan pemerintah kepada Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) sebagai BUMN satu – satunya untuk mencetak uang dan dokumen resmi seperti materai, cukai, sertifikat tanah dan paspor. Peruri berada di kawasan Industri Karawang dengan luas lahan ratusan hektar.

“Dalam prosesnya, Peruri hanya bertindak sebagai pencetak uang saja. Sebab, kebijakan untuk pembuatannya berada di tangan Bank Indonesia. Peruri hanya memenuhi target kontrak yang diberikan Bank Indonesia,” jelas Asisten Direktur Kelompok Data Sistem Informasi Edukasi Kerjasama dan Penanggulangan Uang Palsu Bank Indonesia, Helda Erika kepada rombongan jurnalis Kalsel yang diberikan kesempatan bertandang ke “pabrik uang” itu, Senin (15/5/2023).

Ada 40 jurnalis yang diboyong Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kalsel ke Peruri untuk melihat secara langsung bagaimana jalannya proses pembuatan uang rupiah sehingga bisa lebih tergugah lagi untuk menjaga mata uang NKRI itu.

Dari awal masuk pintu gerbang, pengaman fisik sudah mulai tampak. Sebab, masuk ke Peruri bukan perkara mudah. Harus sudah terverifikasi dan melalui beberapa pintu akses. Termasuk jajaran direksi dan karyawan maupun pengunjung.

Setelah masuk, awak media yang biasanya menenteng kamera dan smartphone, suka tidak suka, mau tidak mau harus rela untuk tidak bisa mengambil gambar proses pencetakan uang. Tak cuma dua alat paling lengket di badan jurnais itu wajib ditanggalkan, perangkat properti lainnya seprti tas, topi dan uang plus dompet juga tidak diperkenankan masuk di zona percetakan uang.

Memasuki ruang pertama, petugas menunjukkan proses awal, dimana bahan berupa kertas khusus yang sudah disediakan Bank Indonesia mulai dicek lembar demi lembar. Setelahnya, kertas tersebut masuk ke dalam mesin offset atau cetak dasar.

Setelah itu, bahan kertas tersebut kembali masuk ke dalam sebuah mesin untuk dicetak dalam menggunakan tinta khusus. Proses inilah yang memberi kesan kasar dan terdapat detile gambar dalam uang kertas.

Sampai pada proses tersebut, uang kertas belum dilakukan cutting atau pemotongan. Dalam satu lembar bilyet, terdapat 45 uang kertas.

Proses selanjutnya yakni pengecekan. Bilyet tersebut disortir satu per satu. Hal ini untuk mengetahui apakah ada yang rusak atau tidak. Pengecekkan juga menggunakan mesin, sehingga lebih akurat.

Tak hanya sampai di situ saja, proses masih berlanjut dengan pemberian nomor seri. Kemudian dicek lagi, barulah masuk mesin pemotong dan pengepakan (cutting and packing).

“Ini pengalaman yang luar biasa. Ternyata proses mencetak uang itu sangat hati – hati dan melalui proses yang panjang,” ujar Elsa Pratiwi, salahsatu jurnalis media online ternama di Banjarmasin yang berkesempatan ikut melihat proses percetakan duit. (Ltf)

Bagikan Berita:

Check Also

Purbaya Dikabarkan Ambruk dan Masuk Rumah Sakit

JAKARTA, DETAK KALIMANTAN – Kementerian Keuangan buka suara terkait perbincangan di media sosial yang menyatakan …